SURYA.co.id | SURABAYA - Operasi penyelamatan yang berhadapan langsung dengan aparat, dilakoni Ana bukan sekali itu saja.
Dia juga terlibat dalam operasi serupa di Makassar pada 2010. Di sana, pelaku perdagangan manusia adalah oknum kepolisian setempat.
Meski berstatus polisi, Ana dan tim tidak gentar. Dia mengaku salut dengan anggota Unit PPA Polrestabes Surabaya yang tidak pandang bulu.
"Karena itulah saya menjadi nyaman meski bertugas di daerah yang rawan. Saya yakin, teman-teman dari Polrestabes Surabaya melindungi saya selama operasi ini berlangsung. Alhamdulillah, tidak pernah ada betrok fisik dan terluka. Meski tegang, kami bisa mengantisipasi kemungkinan terburuk," ungkap ibu dua anak itu.
Ana mengaku trenyuh dengan praktik perdagangan manusia. Berbagai operasi penyelamatan yang dilakoninya, membuka mata Ana bahwa praktik ini masif dan melibatkan oknum penegak hukum.
Dia menyaksikan langsung, korban diperlakukan tidak manusiawi.
"Di Kupang, para korban ini tidur di bilik ukuran 6 meter persegi yang terbuat dari seng. Enam korban tidur berimpitan. Kalau saya lihat, kok lebih mirip kandang tikus. Saya sampai ngempet nangis melihat itu," kata perempuan kelahiran Malang itu.
Anda sedang membaca artikel tentang
"Korban Trafficking Tidur Berimpitan, Kok Lebih Mirip Kandang Tikus"
Dengan url
http://cahayapost.blogspot.com/2015/03/trafficking-tidur-berimpitan-kok-lebih.html
Anda boleh menyebar luaskannya atau mengcopy paste-nya
"Korban Trafficking Tidur Berimpitan, Kok Lebih Mirip Kandang Tikus"
namun jangan lupa untuk meletakkan link
"Korban Trafficking Tidur Berimpitan, Kok Lebih Mirip Kandang Tikus"
sebagai sumbernya
0 komentar:
Posting Komentar